Paling berkesan adalah saat silencium

Salah satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah saat silencium.
Hal ini berbeda dari retret-retret yang pernah saya ikuti sebelumnya. Dalam keheningan itu, saya benar-benar merasakan ketenangan yang dalam ketenangan yang rasanya sulit ditemukan di tengah keseharian yang penuh dengan aktivitas dan distraksi.

 

Awalnya saya sempat bertanya, “Kenapa harus sampai segitu-nya?” Tapi perlahan, saya mulai terbiasa. Saya percaya Roh Kudus bekerja di dalam proses itu. Saya mulai merasa lebih tenang dan menyadari bahwa Tuhan sedang membawa saya semakin dekat kepada-Nya. Sebelum retret ini, saya sering mendapat pertanyaan-pertanyaan rohani yang muncul tiba-tiba entah setelah misa, saat merenung, atau bahkan dari percakapan dengan orang-orang di sekitar. Banyak dari pertanyaan itu seperti dijawab melalui kutipan-kutipan Kitab Suci yang dibagikan selama retret, atau yang saya baca sendiri dalam waktu pribadi. Rasanya seperti Tuhan benar benar hadir dan berbicara langsung ke dalam hati saya.

 

Sebelumnya saya pernah mengikuti pencurahan Roh Kudus dan saya pasti kesulitan untuk fokus akibat distraksi dari orang-orang sekitar. Karena itu, saya memilih maju di sesi pertama. Saat berdoa, saya merasakan ada gerakan pada lidah saya seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi saya tidak tahu apa. Meskipun mata saya terpejam, saya seperti melihat ada cahaya. Ketika menyanyikan beberapa lagu, saya merasa ingin menangis. Lalu muncul perasaan lega, seolah ada beban dalam diri saya yang dilepaskan. Setelah itu, hati saya terasa jauh lebih tenang dan damai.

 

Retret ini benar-benar menjadi pengalaman yang memperdalam relasi saya dengan Tuhan dan membuka mata saya akan karya Roh Kudus yang nyata dalam hidup saya. Saya berharap ke depan saya bisa terus menjaga relasi ini dengan menyempatkan waktu untuk membaca Kitab Suci dalam keseharian, dan terbuka pada bimbingan Roh Kudus dalam setiap keputusan saya. Terima kasih. Tuhan memberkati.

 

-Mawar, 2025

Leave a Reply